GAMBARAN UMUM WILAYAH

Desa Karang Tengah merupakan desa penyangga yang berbatasan langsung dengan Tman Wisata Alam Gunung Pancar. Taman wisata alam (TWA) G. pancar dengan luas 447,5 ha, secara administratif berada dalam wilayah Desa Karang Tengah dan Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. TWA G. Pancar merupakan daerah konservasi yang ditetapkan melalui SK Menhut no. 156/Kpts-II/1988 dan hak pengusahaannya diberikan kepada PT Wana Wisata Indah melalui SK Menhut No. 54 /kptsII /1993.

Secara topografi wilayah taman wisata alam G. pancar adalah berbukit- bukit dengan ketinggian dari permukaan laut (dpl) 1529 m. Kemiringan yang cukup tinggi dalam kawasan ini berpotensi untuk terjadinya longsor, banjir, berkurangnya air dan kekeringan. TWA G. pancar memiliki alam yang indah dan udara yang sejuk. Disamping itu terdapat pula pemandian air panas serta Goa Garunggang, sehingga menambah pesona G. Pancar sebagai kawasan wisata. Walaupun kawasan G. pancar merupakan daerah konservasi dan wisata alam namun desa yang berada disekitarnya, terutama desa Karang Tengah dan dusun yang ada didalamnya merupakan daerah yang tertinggal sehingga memerlukan sentuhan-sentuhan pembangunan.

Permasalahan utama yang mengemuka di desa Karang Tengah adalah rendahnya penghasilan masyarakat yang disebabkan sempitnya lahan garapan pertanian, rendahnya harga jual, dan disamping itu sistem bercocok tanam selain padi sawah tidak dilakukan secara intensif dengan pola produksi yang belum mantap. Masalah yang cukup menonjol dalam bidang sosial adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia, yang diukur dari tingkat pendidikan, 90 % masyarakat tamat Sekolah Dasar sejak tahun 1982 (sebelum tahun 1982 sebagian masyarakat tidak tamat SD karena tidak ada fasilitas pendidikan), tamatan SMP kurang lebih 10%, disamping itu sulitnya transportasi menyebabkan kurangnya keinginan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, sejalan dengan itu pula penduduk usia sekolah sudah diharuskan membantu orang tuanya untuk menambah ekonomi keluarga. Masuknya nilai-nilai budaya luar yang tidak bisa disaring sangat mempengaruhi perilaku generasi penerus, yang menyebabkan berkurangnya inisiatif dan kreatifitas seperti, gotong royong, kegiatan yang bermanfaat dibidang ekonomi, agama, pelestarian alam, SDM, dll.

Persoalan lain yang terkait dengan kawasan konservasi TWA Gunung Pancar adalah sebagai berikut 1) Rendahnya pemahaman masayarakat tentang konservasi; 2) Tumpang tindihnya penggunaan lahan pertanian; 3) Ketidakjelasan batas antara lahan perhutani, masyarakat, dan TWA G. Pancar; 4) Menurunnya debit dan kualitas air sangat nyata pada musim kemarau; 5) Potensi rawan longsor.

TAHAPAN PROSES PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA

 Tidak ada resep yang paling tepat untuk menjamin keberhasilan pembangunan desa. Hal ini karena berkaitan dengan perilaku sosial dari masyarkat tersebut yang dinamis. Pola pembangunan desa di suatu wilayah, tidak akan sama dengan pembangunan desa di wilayah yang lain. Karena setiap desa memiliki karakteristik wilayah dan nilai-nilai sosial budaya yang berbeda dengan desa yang lain.

Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) Bogor melakukan pendampingan kepada desa Karang Tengah dengan menggunakan Perencanaan Partisipatif Pembangunan Desa sebagai alat pemecahan masalah dan alat pemersatu masyarakat. Terdapat 3 (Tiga) komponen utama di dalam tahapan kegiatan perencanaan pembangunan desa secara partisipatif yang dilakukan oleh PILI. Komponen-komponen tersebut adalah 1) Pra Kondisi Masyarakat; 2) Pengkajian keadaan desa; 3) Perencanaan Pembangunan Desa Secara Partisipatif;

pancar3

Gambar 2. Tahapan Proses Perencanaan Pembangunan Desa Karang Tengah

 

  1. Pra Kondisi

Kegiatan pra kondisi masyarakat merupakan kegiatan yang terkait dengan membangun dukungan dan kepercayaan (trust building) kepada masyarakat; menghubungi relasi yang luas dan kuat dengan masyarakat, mempersiapkan kader-kader lokal (local champion) untuk melakukan mobilisasi masyarakat dalam kegiatan perencanaan partisipatif. Berbagai kegiatan di bangun seperti upaya penyadaran bertahap bagi masyarakat dan upaya membangkitkan nilai-nilai sosial seperti gotong royong dan kerjasama masyarakat serta kegiatan pengkajian keadaan desa bersama masyarakat. Tahapan kegiatan pra kondisi ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan yaitu Oktober – Desember 2004.

pancar7

Sosialiasasi Kegiatan di Tingkat Desa; Sosialisasi dilakukan di tingkat desa Karang Tengah pada 7 Oktober 2004. PILI beserta pemerintah desa menyampaikan maksud dan tujuan perencanaan pembangunan desa kepada para pihak yang kepentingan di tingkat desa seperti kepala desa, kepala dusun/kampung, aparat keamanan seperti kepolisian dan babinsa, tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh pemuda dan pihak swasta.

Sosialisasi Intensif ke level kampung/RT/RW; Sosialisasi intensif dilakukan pada tingkat kampung dan RT/RW dengan metode Rapid Rural Appraisal (RRA) atau pengkajian desa secara cepat dilakukan pada bukan Oktober-Desember 2004. Pendamping dari PILI melakukan sosialisasi intensif dan pendekatan ke masyarkat di tiap-tiap dusun/kampung yang secara bersamaan juga untuk mengumpulkan data dan informasi secara cepat melalui observasi dan wawancara semi-terstruktur. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi dan membangun kontak dengan orang kunci (key person) dan kelompok-kelompok strategis di tiap-tiap dusun/kampung. Tahap ini merupakan langkah penting untuk masuk ke dalam masyarakat sampai lapisan terbawah dengan mengidentifikasi kader-kader lokal yang akan memobilisasi masyarakat dalam perencanaan partisipatif.

Review Data RRA dan Membentuk Tim Desa; Data awal yang dikumpulkan pendamping PILI ditelaah di tingkat desa bersama aparat pemerintah desa dan sekelompok orang kunci (key person) pada akhir Desember 2004. Tim desa kemudian dibentuk oleh pemerintah desa yang berisi aparat desa dan orang-orang kunci yang telah diidentifikasi untuk melakukan kajian keadaan desa secara mendalam.

  1. Kajian Keadaan Desa

Salah satu komponen penting dalam perencanaan desa adalah data dan informasi keadaan desa yang terkini. Kajian keadaan desa dilakukan untuk mengumpulkan data primer dengan menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) selama bulan Januari – Februari 2005. Tim Desa melakukan pengkajian keadaan desa dengan memetakan potensi Sumber Daya Alam, Sumber Daya Fisik, Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Sosial, Sumber Daya Ekonomi beserta permasalahannya di desa Karang Tengah. Pengkajian Perdesaan secara partisipatif berasumsi bahwa orang perdesaan (komunitas) memiliki pengetahuan berharga mengenai pokok materi yang mempengaruhi hidup mereka. Melalui proses yang tepat, pendekatan ini tidak hanya memberikan identifikasi permasalahan dan isu secara cepat dan efisien, tetapi dalam banyak situasi memberikan hasil jauh lebih seksama, menyeluruh dan mendalam, kerangka kerja dimana untuk menganalisa isu dibanding yang dapat disajikan dengan metoda survei konvensional (FAO, 1995).

Tahapan Kajian Keadaan Desa adalah sebagai berikut:

  • Training of Trainer (ToT) Tim DesaPelatihan Kajian Keadaan Desa kepada Tim Desa dilakukan oleh fasilitator PILI dengan mengenalkan teknik-teknik PRA yaitu transek tata guna lahan, sketsa desa, pemetaan potensi desa, analisis perubahan dan kecenderungan dan kajian sejarah kampung.
  • Kajian Keadaan Wilayah di Setiap KampungKajian keadaan desa dilakukan oleh Tim Desa di setiap wilayah kampung di desa karang tengah. Kajian ini dilakukan selama lebih dari 1 bulan.
  • Verifikasi Data Lapang bersama Masyarkat (FGD), Sosialisasi Tentang Perencanaan Pemangunan Desa dan Seleksi Peserta dari Tiap-Tiap Kampung; Data-data hasil kajian lapang Tim Desa kemudian didokumentasikan dan diverifikasi bersama masyarakat di tiap-tiap kampung melalui focus group discussion (FGD). Selain itu Tim Desa menjelaskan kepada masyarakat tentang pentingnya data keadaan desa dalam perencanaan pembangunan desa. Bersamaan dengan itu, Tim Desa juga mensosialisasikan rencana kegiatan musyawarah Perencanaan pembangunan desa yang akan dilakukan. Peserta dari tiap-tiap kampung dipilih oleh masyarakat itu sendiri berdasarkan keterwakilan kelompok.
  1. Perencanan Partisipatif Pembangunan Desa

Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa Karang Tengah dilaksanakan pada 29-31 Maret 2005. Musyawarah diikuti oleh 85 orang peserta yang mewakili pemerintah desa dan kelompok kepentingan dari tiap-tiap kampung. Kegiatan ini dimulai dengan persiapan material perencanaan dan pembagian peran dari pihak yang terlibat yaitu: Pemerintah Desa, Tim Desa, PILI dan Masyarakat. Tahapan musyawarah perencanaan dapat dijelaskan pada Gambar 3.

pancar4

Gambar 3. Tahapan Proses Musyawarah Perencanaan Desa

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM SETIAP TAHAPAN PROSES PERENCANAAN

Tahapan Perencanaan Pembangunan Desa Karang Tengah dibagi menjadi 3 (tiga) tahapan utama yaitu Pra Kondisi, Kajian Keadaan Desa dan Perencanaan Pembangunan Desa. Dalam setiap tahapan tersebut, masyarakat dilibatkan dalam berproses. Namun, bagaimana tipe partisipasi masyarakat di setiap tahapan prosesnya.

Untuk mengukurnya, Cohen dan Uphoff (1980) menggambarkan dengan bagaimana proses partisipasi terjadi. Setidaknya ada tujuh ukuran yang dapat digunakan yaitu:

  • Dari manakah datangnya inisiatif, apakah dari luar ataukah dari orang lokal itu sendiri?
  • Apa insentif bagi orang lokal untuk berpartisipasi, apakah kesukarelaan (voluntary participation), ataukah karena dibayar (remunerated participation), ataukah karena instruksi/paksaan (coercive participation)/
  • Bagaimana pola pengorganisasian dari partisipasi, apakah orang berpartisipasi sebagai individu atau sebagai kolektif (anggota suatu kelompok)?
  • Apakah orang berpartisipasi secara langsung (direct participation) ataukah diwakili oleh orang lain (indirect representation)?
  • Seberapa lama durasi partisipasi yang direncanakan?
  • Seberapa banyak (lingkup) aktivitas-aktivitas yang akan dipartisipasikan?
  • Seberapa tinggi tingkat partisipasi orang lokal?
  1. Partisipasi Masyarakat Pada Tahap Pra Kondisi

Pada tahap Sosialisasi, sosialisasi intersif dan Rapid Rural Appraisal (RRA), pendamping/peneliti melibatkan masyarakat sebagai pemberi informasi dan konsultasi. Keikutsertaan di dalam memberi informasi adalah masyarakat mengambil bagian dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pendamping/peneliti dengan menggunakan daftar pertanyaan survei atau pendekatan serupa. Masyarakat juga terlibat dalam konsultasi dan menggambarkan solusi serta permasalahan dari sudut tanggapan masyarakat.

pancar11

  1. Partisipasi Masyarakat Dalam Tahap Kajian Keadaan Desa

Pada tahap ini partisipasi masyarakat dalam kegiatan sudah lebih baik. Masyarakat secara sukrela mulai terlibat dan bekerjasama dalam penelitian keadaan desanya sendiri dan secara langsung memberikan umpan balik terhadap keakuratan data hasil kajian. Tim Desa Yang berisikan orang desa berjumlah 14 orang dan keterlibatan masyarakat dalam melakukan verifikasi data kajian di tiap-tiap dusun/kampung merupakan tipe partisipasi Keikutsertaan fungsional.

  1. Partisipasi Masyarakat Dalam Tahap Perencanaan Partisipatif Pembangunan Desa

Pada tahap perencanan partisipatif pembangunan desa, partisipasi masyarakat menekankan pada partisipasi dalam menganalisa masalah, yang menuju ke arah rencana tindakan dan pembentukan kelompok lokal baru atau memperkuat yang ada. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan lebih menekankan pengambilan keputusan secara sadar oleh masyarakat atas pilihan-pilihan yang tersedia. Dalam kegiatan ini PILI memfasilitasi perencanaan dengan metodologi interdisciplinary yang mencari berbagai perspektif dan menggunakan proses pembelajaran tersusun dan sistematis. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan desa Karang Tengah merupakan tipe partisipasi keikutsertaan interaktif.

EPILOG

Keseluruhan tahapan kegiatan perencanaan pembangunan desa merupakan rangkaian kegiatan untuk membangun dukungan dan kepercayaan (trust building) kepada masyarakat; membangun relasi yang luas dan kuat dengan masyarakat, mempersiapkan kader-kader lokal (local champion) dan sebagai upaya penyadartahuan bertahap bagi masyarakat serta upaya membangkitkan nilai-nilai sosial seperti gotong royong dan kerjasama masyarakat.

Pendekatan yang digunakan dalam Perencanaan Pembangunan Desa Karang Tengah adalah pendekatan partisipatif. Pendekatan partisipatif digunakan agar masyarakat dapat menjadi pelaku utama di dalam Perencanaan Pembangunan Desa. Pendekatan ini juga menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan pembangunan desa. Dengan memiliki rencana pembangunan desa, posisi tawar desa Karang Tengah akan meningkat ketika bersinergi dengan pemangku kepentingan (stake holder) lainnya.

 

PUSTAKA

Campfens, Hubert (Eds). 1997. Community Development Around The World: Practice, Theory, Research, Training. University of Toronto Press. Toronto, Canada.

Cernea MM. 1992. The Building Blocks of Participation: Testing a Social Methodology. Di dalam: Bhatnagar B & Williams AC, editor. Participatory Development and the World Bank: Potential Directions for Change. Washington, D.C.: The World Bank.

Chambers, Robert. 1992. Rural Appraisal: Rapid, Relaxed, and Participatory. Institute of Development Studies Discussion Paper 311. Sussex: HELP.

Crush, Jonathan. 1995. Power of Development. Routledge. New York

Food and Agriculture Organization of United Nations (FAO). 1995. Planning for sustainable use of land resources. Towards a new approach. FAO Land and Water Bulletin, Volume 2. Rome

Frank, Flo and Anne Smith. 1999. The Community Development Handbook: A Tool To Build Community Capacity. Canada. Minister of Public Works and Government Services Canada.

Hogue, Teresa. (1993). Community Based Collaboration: Community Wellness Multiplied. Oregon State University. Oregon Center for Community Leadership.

Kumar, Somesh dan A. Shanti Kumari. 1991. The Thippapur Experience: A PRA Diary. RRA Notes Participatory Methods for Learning and Analysis No 14. IIED.London.

Nasdian, Fredian Tonny. 2014. Pengembangan Masyarakat. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta

Phillips, Rhonda dan Robert H. Pittman. 2008. An Introduction to Community Development. Taylor & Francis E-Library. New York.

Svendsen, Gert Tinggaard dan Gunnar Lind Haase Svendsen. 2009. Handbook of Social Capital: The Troika of Sociology, Political Science and Economics. Edward Elgar Publishing Limited. UK.

Tiwari, Reena, Marina Lommerse, Dianne Smith. 2014. M2 Models and Methodologies for Community Engagement. Springer Science – Business Media Singapore. Singapore.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s