Kisah lahirnya BUMDes layaknya kisah Bawang Merah dan Bawang Putih dalam dongeng-dongeng rakyat Indonesia. BUMDes direpresentasikan seperti Bawang Merah yang penuh dengan dukungan orang tua (Pemerintah) dan Usaha Kecil Menengah (UKM) direpresentasikan sebagai Bawang Putih yang dukungannya tidak terlalu besar namun tetap berjuang untuk menjadi yang terbaik.

UKM merupakan salah satu bentuk usaha masyarakat yang umum di perdesaan. Walaupun juga mendapat dukungan pemerintah namun secara jumlah nilai permodalan sangat bisa dibandingkan, misalnya bantuan permodalan yang umum 1-5 jt per kelompok usaha. Dukungan yang umum biasanya dari Dinas Koperasi dan UKM atau Dinas-dinas lain di Kabupaten yang terkait. Namun demikian, UKM secara konsisten mampu berkembang dengan baik walau secara perlahan-lahan.  UKM di perdesaan lahir dari kebutuhan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat sehingga memiliki pondasi kelembagaan yang kuat, keunikan usaha dan ketangguhan di dalam berwirausaha.

Berbeda dengan UKM, BUMDes merupakan amanat dari Undang-Undang no 6/2014 dan benar-benar mendapat perhatian pemerintah pusat khususnya Kementrian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT). BUMDes diharapkan hadir dan tumbuh lembaga ekonomi baru yang tangguh yang mampu menggerakan perekonomian desa. Dalam pendiriannya saja, Pemerintah memberikan dana stimulan yang cukup besar kepada desa untuk rintisan BUMDes, belum lagi ditambah dengan Dana Desa yang setiap tahunnya dapat dialokasikan pada investasi bisnis dan penguatan kapasitas BUMDes. Pada tahun 2018, terdapat 39.149 unit BUMDes yang sudah terbentuk di seluruh desa di Indonesia. Namun demikian, lebih dari setengahnya mati suri. Sisanya juga belum jelas, terutama kualitas bisnisnya.

triangle bisnis desa

Lantas, apa yang menjadi persoalannya ?

BUMDes sebagai salah satu pilar kegiatan ekonomi di desa yang berfungsi, tidak hanya sebagai lembaga sosial (social institution), tetapi juga komersial (commercial institution). Sebagai lembaga sosial, BUMDes berpihak kepada kepentingan masyarakat melalui kontribusinya dalam fungsi-fungsi pelayanan sosial, penyediaan peluang usaha dan fasilitasi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sedangkan sebagai sebuah entitas usaha komersial, BUMDes diharapkan mampu menghidupkan perekonomian masyarakat desa, salah satunya dengan mencari keuntungan melalui penawaran sumberdaya lokal (barang dan jasa) ke pasar.

potensi desa

Hal yang sangat mendasar dan penting di dalam pengembangan BUMDes adalah perubahan mind set terhadap keberadaan BUMDes itu sendiri. Salah satu faktor utama kegagalan pengembangan BUMDes adalah pola pikir yang menganggap BUMDes hanya sebagai “program pemerintah”. BUMDes belum menjadi kebutuhan Pemerintah Desa dalam menumbuhkembangkan perekonomian desa. BUMDes kemudian banyak diserahkan pengelolaannya kepada perangkat desa yang kemudian membuat BUMDes kurang kreatif di dalam pengembangannya, hanya menunggu program dan anggaran dari pemerintah. Akhirnya, banyak BUMDes kurang berkembang dan perlahan mati suri.

Selain itu, juga terdapat persoalan kapasitas sumberdaya manusia pengelola BUMDes yang masih lemah dan bahkan tidak memiliki wawasan serta pengalaman wirausaha. Belum adanya mental wirausaha seperti berpikir positif, percaya atau yakin pada usaha sendiri serta  berani mengambil resiko di duga menjadi dasar persoalan mati surinya sebagaian besar BUMDes di Indonesia. Di dalam berwirausaha atau berbisnis tentu akan menghadapi berbagai resiko, apalagi jika bisnis tersebut dikembangkan di wilayah perdesaan yang memiliki tantangan tersendiri di dalam pengelolaan dan pemasarannya. Oleh karena itu, BUMDes memerlukan kepiawaian dalam kepemimpinan (Leadership), komunikasi (communication) dan membangun jaringan (networking).

Seperti yang dapat kita lihat jika berkunjung ke desa-desa, usaha BUMDes pada umumnya adalah jasa Alat Tulis Kantor dan Fotocopy, Simpan pinjam yang lebih banyak pinjamnya dari menyimpan dan Minimarket yang tidak lebih hebat dari warung-warung grosir masyarakat. Jika kita kemudian menemukan BUMDes yang berhasil, kebanyakan merupakan transformasi usaha dari usaha UKM atau kelompok masyarakat sebelumnya yang diakuisisi. Istilahnya ganti baju saja. Dengan kata lain, sulit untuk menemukan BUMDes yang memiliki usaha yang benar-benar baru dan melalui perencanaan bisnis yang matang.

Apa yang perlu dilakukan?

BUMDes sebagai layaknya perusahaan, membutuhkan kepiawaian wirausaha dimana seharusnya bisnis BUMDes mampu berkembang dengan perputaran modal yang ada. Pola pikir terhadap BUMDes perlu dirubah dengan membangun BUMDes seperti perusahaan dimana memerlukan manajerial yang baik, memiliki pemimpin yang mempunyai wawasan dan pengalaman tentang wirausaha, serta kemampuan mencermati potensi yang ada di desa untuk dikembangkan menjadi bisnis utama BUMDes.

Pemodelan bisnis

Sebagai sebuah lembaga ekonomi BUMDes bergerak dengan mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya yang ada di suatu desa. Untuk itu perlu dilakukan perencanaan bisnis desa yang mengoptimalkan sumber daya desa untuk tujuan-tujuan ekonomi dan sosial dan tentunya memperhatikan keberlanjutan sumber daya tersebut antar generasi.

Proses perencanaan bisnis desa terutama memilih dan menentukan produk unggulan dan merumuskan arah bisnis BUMDes, merancang strategi pemasaran serta strategi kelembagaan BUMDes dalam menghadapi pasar dan persaingan usaha menjadi sangat penting dirumuskan agar BUMDes memiliki peta jalan (road map) dalam mencapai VISI dan MISInya. Dalam hal ini, di dalam pengembangan rencana bisnis dan pengembangan BUMDes, jika diperlukan, dapat melibatkan wirausahawan dan lembaga-lembaga akademik yang berfokus pada usaha ekonomi mikro.

Diperlukan program-program pemerintah untuk penguatan kapasitas pengelola BUMDes dalam hal perencanaan bisnis (pemodelan bisnis), manajerial, pemasaran dan promosi. Untuk mengakselerasi percepatan pertumbuhan BUMDes yang ideal, perlu untuk dikembangkan lokasi-lokasi desa yang menjadi pusat pembelajaran BUMDes kurikulum pembelajaran bersama (Shared-learning) yang aplikatif dan dapat diterapkan di desa-desa lainnya.

Intinya, persoalan BUMDes bukan persoalan modal tetapi kemauan, keberanian dan inovasi. Kemauan dan keberanian untuk mengembangkan ide, inovasi dalam pengembangan model bisnis, dan cara pengelolaan BUMDes.

 

Tabik,

Bogor, 19 Oktober 2018.

Contoh pemodelan Bisnis Desa dapat di unduh :PPT_Thomas-compressed

 

One thought on “BUMDes VS UKM: Si Bawang Merah dan Bawang Putih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s