Masjid Atta’awun, dibangun pada 1987 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat pada 1999. Masjid ini merupakan salah satu destinasi favorit di kawasan puncak.

Siapa yang tidak mengenal Puncak. Kawasan yang terletak di kaki Gunung Gede ini telah menjadi destinasi wisata favorit nasional dan internasional. Pesona alam pegunungan sejuk dan indah telah menarik minat banyak wisatawan untuk berkunjung, terutama minat penduduk Jakarta untuk menghabiskan libur akhir pekannya di daerah ini. Selain jarak yang dekat dengan ibukota Jakarta, Puncak memang memiliki daya tarik dengan suguhan beragam atraksi dan hiburan menarik seperti Taman Matahari dan Taman Safari Indonesia, dua destinasi wisata terkenal di kawasan tersebut. Kunjungan wisatawan, baik nasional maupun internasional ternasuk juga pembangunan infrastruktur pariwisatanya, telah meningkat secara signifikan dalam dua dekade ini.

Pertumbuhan jumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan Puncak meningkat rata-rata 3,9% pertahun.Pada tahun 2014, tercatat sebanyak 1.102.608 orang yang mengunjungi Puncak, sedangkan pada 2015 tercatat sebanyak 1.335.443 orang atau meningkat lebih dari 200.000 orang pertahun. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan juga diiringi dengan tumbuhnya hotel dan penginapan di kawasan Puncak. Saat ini, terdapat lebih dari 24 hotel dengan jumlah kamar sebanyak 1.825 kamar. Jumlah ini belum di tambah dengan villa-villa yang disewakan [1]. 

Kawasan Warung Kaleng-Desa Tugu Utara, destinasi favorit turis asal Timur Tengah. Puncak terkenal dengan sebutan “Jabal al Jannah” atau Gunung Surga.

Selain memiliki daya tarik wisata panorama alam yang indah, Puncak adalah kawasan penting yang menjadi sumber air bagi kota Jakarta dan sekitarnya. Dari kawasan Puncak, mata air dan sejumlah anak sungai mengaliri sungai Ciliwung menuju laut Jakarta. Sebagai hulu sungai Ciliwung, Puncak merupakan satu-satunya hulu Daerah Aliran Sungai (DAS)[2] di kabupaten Bogor yang masih memiliki hutan yang cukup baik. Dari enam DAS[3] yang mengalir ke ibukota Jakarta, kawasan Puncak masih menyisakan tutupan hutan seluas 3.565 hektar atau sekitar 12,22%[4] dari luas total DAS.

Pemetik Teh di Perkebunan Ciliwung

Puncak: Hutan Tersisa di Hulu DAS Ciliwung


Pada tahun 1977, UNESCO kemudian menetapkan Puncak sebagai bagian dari Cagar Biosfer Cibodas untuk menopang kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Salah satu pertimbangannya adalah tingginya nilai keanekaragaman hayati dan pentingnya fungsi-fungsi hidrologi kawasan Puncak untuk menghidupi lebih dari 20 juta penduduk  di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi[5].

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Di kawasan tersebut, kini masih tersisa hutan alam tropis seluas 3.400 hektar yang tersebar di Cagar Alam (CA) dan Taman Wisata Alam (TWA) Telaga Warna, TWA Jember[6], kawasan hutan lindung Perum Perhutani dan sejumlah kawasan hutan di perbatasan kawasan HGU[7] PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas dengan TNGGP.

Cagar Alam Telaga Warna

Sejumlah satwa endemik terancam punah pun masih dapat di jumpai di kawasan Puncak seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis commata) dan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Kawasan ini juga merupakan kawasan penting yang menjadi tempat persinggahan burung pemangsa migran Asia. Pada bulan September hingga Desember,  Puncak menjadi jalur rutin migrasi puluhan ribu burung pemangsa dari bagian utara benua Asia yaitu wilayah Jepang menuju ke Selatan ketika musim dingin tiba di daerah asalnya. Pada periode tersebut, untuk beberapa saat hutan Puncak disinggahi oleh kawanan burung pemangsa migran, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan kearah timur pulau Bali dan Lombok[8]. Sebagian kecil burung pemangsa tersebut kemudian menetap dan beradaptasi dengan jenis burung pemangsa lokal yang ada di Puncak. 

Gunung Ageung-Cihaliwung-Telaga Warna


Seratus enam puluh tahun lalu, Friedrich Franz Wilhelm Junghun (1854) menyebutkan masih terdapat Harimau Jawa (Phantera tigris sondaica), Banteng (Bos javanicus), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan Rusa Jawa (Cervus timorensis) di kawasan Gunung Gede Pangrango dan sekitarnya. Namun semua satwa yang disebutkan Junghun tersebut, sekarang sudah tidak pernah dijumpai lagi. Hilangnya satwa-satwa eksotik pulau Jawa itu, kemungkinan besar terkait erat dengan ketersediaan habitatnya yang terus berkurang di kawasan tersebut[9].

Kawasan hutan Mandalawangi, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Pada tahun 1861, Alfred Russel Wallace seorang Naturalist Inggris juga pernah menginjakkan kakinya di kawasan Gunung Megamendong (1.371mdpl) atau sekarang di kenal dengan nama Puncak Pass. Wallace, pada saat itu mengunjungi Puncak sebelum melanjutkan perjalanan ke Tchipanas (Cipanas), dan kemudian akhirnya melakukan pendakian ke puncak Gunung Pangerango (Pangarango) dan Gunung Gedeh (Gede).

Di dalam bukunya yang berjudul “Malay Archipelago: The Lands of Orang-Utan, and The Bird of Paradise“,Ia menceritakan bahwa kondisi kawasan hutan Gunung Megamendong masih sangat perawan di bagian puncaknya, terdapat beberapa kebun kopi tua dimana tanaman tersebut dapat dijumpai pada hampir semua dimensi pohon hutan[10]. Hanya dalam waktu satu minggu, Wallace berhasil menemukan 40 jenis burung[11] yang hampir seluruhnya tidak biasa (aneh) untuk jenis avifauna Jawa yang sudah pernah diidentifikasikan[12].

Jauh sebelum Junghun dan Wallace mengunjungi Puncak dan Gunung Gede, Bujangga Manik atau Prabu Jaya Pakuan, seorang ksatria dari kerajaan Pakuan sempat melakukan perjalanan religi ke kawasan tersebut. Dalam naskah tua berjudul “Bujangga Manik” yang diperkirakan ditulis oleh Prabu Jaya Pakuan sendiri pada abad ke-15-16 itu, kawasan Gunung Gede, Ciliwung dan Telaga Warna disebutkan sebagai tempat-tempat yang ia kunjungi selama melakukan perjalanan religi mengelilingi pulau Jawa dan Bali.

Kampung Cibulao, salah satu pemukiman penduduk di dalam
kawasan HGU perkebunan Teh Ciliwung.

Naskah tersebut berbentuk syair panjang, beraksara Sunda kuno dan dituliskan pada daun lontar. Berkisah tentang Bujangga Manik atau Prabu Jaya Pakuan yang melakukan dua kali perjalanan pertapaan di tanah Jawa dan Bali. Singkatnya, seperti yang tertulis dalam naskah tua tersebut bahwa;

Dalam perjalanan kedua, Bujangga Manik akhirnya   tiba di Gunung “Ageung” (Gede), yang merupakan sumber air dari “Ci-Haliwung” dan wilayah sakral Kerajaan Pakuan serta danau suci Telaga Warna[13].

Dari cerita tersebut sebenarnya tergambar bahwa kawasan Puncak (Telaga Warna), sudah dianggap penting dan sakral sejak jaman Kerajaan Pakuan.

Di Atur Sejak Jaman Soekarno


Sejarah pengaturan pembangunan di kawasan Puncak sudah di mulai sejak era pemerintahan Presiden Soekarno di tahun 1963. Pada saat itu, Soekarno sudah melihat gelagat cepatnya pertumbuhan di kawasan Puncak. Soekarno akhirnya menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 13 tahun 1963 untuk mengatur penertiban pembangunan baru di sepanjang jalan raya Jakarta-Bogor -Cianjur.

Jalan raya puncak-Gunung Mas, Kabupaten Bogor.

Selanjutnya, kebijakan pengaturan penataan ruang kawasan Puncak pertama kali diterbitkan melalui Keputusan Presiden Nomor 48 tahun 1983 tentang Penanganan Khusus Penataan Ruang Dan Penertiban Serta Pengendalian Pembangunan Pada Kawasan Pariwisata Puncak dan Wilayah Jalur Jalan Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur Di Luar Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Kotamadya Bogor, Kota Administratif Depok, Kota Cianjur dan Kota Cibinong.

Setelahnya, berbagai kebijakan pengaturan dalam pembangunan kawasan Puncak diterbitkan untuk menjamin keseimbangan ekologi kawasan dan kelestarian hutan.Kebijakan terkini adalah Perpres nomor 54 tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur dan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun 2008tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor tahun 2005-2025.

Gemerlap puncak di malam hari terutama pada libur akhir pekan.

Secara substansi, kedua kebijakan tersebut mengarahkan pengendalian pemanfaatan di kawasan Puncak dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekologi dan mempertahankan kelestarian lingkungan hidup[14]. Perda RTRW Kabupaten Bogor di tahun 2008, kini telah di revisi dengan Perda Kabupaten Bogor Nomor 11 tahun 2016 mengenai RTRW Kabupaten Bogor periode 2016-2036.

Perubahan kebijakan alokasi ruang tersebut, nampaknya masih belum kuat mendukung perlindungan hutan alam yang tersisa di Puncak karena seluas 445 hektar kawasan lindung berubah fungsi untuk fungsi kawasan hutan produksi, pertanian dan permukiman. Kemudian terdapat 704 hektar kawasan lindung berubah peruntukannya menjadi kawasan perkebunan[15].

Menuju Titik Nadir


Selain di kenal karena keindahan panorama alamnya, Puncak juga terkenal karena selalu menjadi kambing hitam jika terjadi banjir di wilayah hilir yaitu Jakarta dan sekitarnya. Tumbuhnya pariwisata di Puncak, tidak pungkiri lagi  memang mampu menggairahkan pembangunan dan perekonomian setempat. Peluang pekerjaan yang luas dan pilihan mata pencaharian yang lebih beragam, tentunya memberikan banyak harapan bagi masyarakat di kawasan tersebut.

Profesi jasa Ojek menjadi profesi yang semakin berkembang di kawasan ini. Perubahan jenis pekerjaan ini sebagai dampak perubahan penguasaan lahan di kawasan puncak.

Namun, pertumbuhan pariwisata yang masif tersebut, juga telah memberikan dampak negatif pada masyarakat sekitar. Kunjungan yang terlalu berlebihan telah menimbulkan berbagai persoalan seperti penumpukan sampah di pinggir jalan dan sungai, kemacetan serta konversi lahan untuk pembangunan hotel-hotel, vila dan resor wisata.

Dampak negatif konversi lahan misalnya, telah terjadi di kawasan puncak tepatnya di desa Tugu Utara. Pada aspek sosio-ekonomis telah terjadi perubahan penguasaan lahan, kesempatan kerja, perubahan pola kerja, kondisi tempat tinggal, dan hubungan antar warga di desa tersebut. Dampak lain juga terjadi pada aspek sosio-ekologis seperti berkurangnya akses terhadap sumber daya air, cara warga membuang limbah rumah tangga dan terjadinya degradasi lingkungan seperti banjir, longsor dan kebisingan[16].

Laju konversi lahan menjadi pemukiman,
menjadi persoalan utama di kawasan puncak

Berbagai data penelitian juga menyebutkan bahwa saat ini, bentang alam kawasan puncak tengah mengalami perubahan yang cepat. Secara umum, konversi lahan terjadi pada peruntukan kawasan hutan menjadi areal perkebunan dan pertanian, dari peruntukan perkebunan menjadi lahan pertanian dan permukiman, atau peruntukan pertanian menjadi kawasan pemukiman dan industri (Rustiadi et al. 2012; Kholil dan Dewi, 2015; Remondi et al. 2016).

Selama periode 1990-2010 saja, di kawasan Puncak terjadi peningkatan pembangunan permukiman yang mencapai 245,73%, dari 883,3 hektar di tahun 1990 menjadi 2.170,6 hektar pada tahun 2010[17]. Pembangunan pemukiman telah masuk ke kawasan lindung sebesar 57,46% dan ke kawasan budidaya pertanian sebesar 22,65%. Bahkan, beberapa telah memasuki wilayah yang rawan terhadap bencana longsor[18].

Perkembangan pemukiman yang semakin masif kearah atas (hulu).

Hal tersebut tentunya akan menimbulkan dampak bagi daerah hilir. Fakta menunjukan bahwa banjir secara ekstrim terjadi di wilayah hilir Jakarta dan sekitarnya pada Januari 1996, Februari 2002, Februari 2007, Januari 2013, Januari and Februari 2014. Bencana banjir meluas mencapai 60% wilayah Jakarta pada Februari 2007, menyebabkan 80 korban jiwa, sekitar 190.000 orang dengan penyakit yang terkait banjir dan kerugian finansial mencapai US $ 453.000.000[19].

Pada tahun 2018, bencana akibat ulah manusia tersebut bahkan terjadi di hulunya sendiri. Longsor besar terjadi pada 5 Februari dan 28 Maret 2018 di kawasan Puncak dan Cipanas. Sejumlah bangunan bungalow dan Puncak Pass Resort tidak dapat digunakan lagi dan sebagian longsoran telah menutupi badan jalan raya Puncak-Cianjur[20].  Jalur ini sempat ditutup beberapa saat lamanya untuk kendaraan roda empat dan dua.

Hasil survei dari Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W), Institut Pertanian Bogor pada bulan Maret 2018, menemukan lebih dari 55 titik longsor di kawasan desa Tugu Utara dan desa Tugu Selatan[21]. Pada bulan yang sama, pemerintah desa Tugu Utara melaporkan bahwa telah terjadi banjir bandang di sungai Citamiang, anak sungai Ciliwung, yang menyebabkan kerusakan bangunan jembatan desa dan beberapa rumah warga.

Hilangnya hutan, tentunya juga akan berakibat pada berkurangnya nilai keanekaragaman hayati yang menjadi andalan pariwisata di kawasan ini. Wahyuni dan Syartinilia (2015) menjelaskan, nilai keanekaragaman hayati di Puncak memiliki kecenderungan menurun jika bergerak ke arah bawah yaitu mulai dari wilayah Kecamatan Cisarua menuju ke Kecamatan Megamendung dan Kecamatan Ciawi.

Kecenderungan ini dipengaruhi oleh terbatasnya ketersediaan lahan terbuka, tingginya tingkat perubahan penutupan dan penggunaan lahan, pesatnya pembangunan infrastruktur dan peningkatan jumlah penduduk serta struktur ekonomi yang berubah terutama jika di lihat dari jenis pekerjaan utama penduduk.

Saat ini, di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung terdapat 6.121 hektar yang memiliki nilai keanekaragaman hayati tinggi, 5.204 hektar memiliki nilai keanekaragaman hayati sedang, dan 2.635 hektar dengan nilai keanekaragaman hayati rendah[22]. Wilayah hulu DAS Ciliwung yang diteliti adalah seluas 14.324 hektar.

Kerusakan hutan dan perubahan penggunaan lahan yang cepat adalah masalah serius yang perlu segera di tangani. Diperlukan keterlibatan semua pihak dalam mengelola kawasan Puncak agar mampu melindungi masyarakat di kawasan tersebut dan daerah dibawahnya.Sebagai ekosistem hulu sungai yang rentan, Puncak memerlukan model pengelolaan wilayah yang berorientasi pada fungsi kawasan hutan dan jasa lingkungan serta mempertimbangkan daya dukung wilayah tersebut.


Pustaka

  1. Badan Pusat Statistik.2016. Kabupaten Bogor Dalam Angka Tahun 2015.
  2. Nama Puncak dan DAS Ciliwung merujuk pada lokasi kawasan yang sama dan akan digunakan secara bergantian pada penulisan buku ini. Hulu DAS Ciliwung mencakup wilayah kecamatan Cisarua, Megamendung dan Ciawi.
  3. Secara khusus, kawasan Puncak menjadi penyedia air utama untuk 3 DAS, yaitu Ciliwung, Kali Bekasi, dan Citarum.
  4. Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode 2000-2009. Forest Wacth Indonesia 2011.
  5. GGNP and ITTO. 2014. Developing Collaborative Management of Cibodas Biosphere Reserve in West Java – Indonesia.ITTO Project TFL-PD 019/10 Rev. 2 (M) (Bogor: ITTO).
  6. Zona inti Cagar Biosfer Cibodas telah diusulkan untuk diperluas dengan memasukkan Cagar Alam (373,25 ha) dan Taman Wisata Alam Telaga Warna (5 ha) serta Taman Wisata Alam Jember (50 ha) yang semuanya berada di kawasan Puncak.
  7. HGU adalah Hak Guna Usaha atas tanah negara yang diberikan kepada perusahan untuk dikelola dengan masa berlaku 30 tahun dan dapat diperpanjang kembalu ijin HGU nya.
  8. Jenis yang paling dominan jumlahnya adalah Sikep Madu Asia (Pernis ptylorhincus), Alap-alap Nippon (Accipiter gularis), Alap-alap Cina (Accipiter soloensis). Burung pemangsa tersebut singgah untuk mencari makan di hutan-hutan dan kawasan terbuka di Puncak.
  9. Whitten T, Soeriaatmadja RE, Afiff SA. 1997. The Ecology of Java and Bali. Oxford University Press.
  10. Varietas kopi dari jaman Belanda tersebut, kemungkinan besar masih tumbuh di hutan di kawasan Gunung Mas dan ditanam di sekitar kampung Cibulao dengan  nama lokal kopi varietas “Buhun”.
  11. Spesies burung baru dan endemik dan hanya dijumpai di Jawa bagian Barat.
  12. Wallace AR. 1869. Malay Archipelago: The Lands of Orang-Utan, and The Bird of Paradise. Harper and Brothers Publishers. New York.
  13. Masatoshi Iguchi, 2015. Java Essay: The History and Culture of a Southern Country. Leicestershire (GB): Matador – Troubador Publishing Ltd.
  14. Dwikorawati SS. 2012. Model Kebijakan Pengelolaan Pariwisata Yang Berdaya Saing Dan Berkelanjutan Di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
  15. Fauzan A, Rustiadi E, Mulya SP. 2017. Kajian Perubahan Fungsi Hutan, Tata Ruang dan Tutupan Lahan di Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan, Kawasan Puncak-Bogor [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
  16. Lestari A, Dharmawan AH. 2011. Dampak Sosio-Ekonomis dan Sosio-Ekologis Konversi Lahan.Sodality: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia. 5(1):1-12. ISSN: 1978-4333.
  17. Rustiadi E, Tarigan S, Nurholipah S, Pravitasari A E and Iman L S 2012 Towards Sustainable Land Use in Asia [III] Land Use/Cover Changes in Puncak Area (Upstream of Ciliwung River) and Its Potential Impact on Flood Dinamycs (SLUASS Science Reports 2012May 2012) ed Y Himiyama (Hokkaido: Hokkaido Universityof Education) pp 163-171.
  18. Kholil K and Dewi I K 2015 Evaluation of land use change in the upstream of ciliwung watershed to ensure sustainability of water resources Asian Journal of Water, Environment and Pollution.12 No. 1 pp. 11–19.
  19. Remondi F, Burlando P, Vollmer D 2016 Exploring the hydrological impact of increasing urbanisation on a tropical river catchment of the metropolitan jakarta, indonesia Sustainable Cities and Society. 20 pp 210-221 Doi: 10.1016/j.scs.2015.10.001.
  20. https://metro.tempo.co/read/1076036/longsor-puncak-terjadi-lagi-hotel-4-lantai-puncak-pass-amblas/full&view=ok, diakses 31 Agustus 2018.
  21. P4W IPB/FWI. 2018. Program Pemulihan Ekosistem di Hulu DAS Ciliwung: Penguatan Kolaborasi Para Pihak Dalam Mitigasi Perubahan Iklim. P4W IPB/FWI/ICCTF. Bogor.
  22. Wahyuni S, Syartinilia. 2015. Studi Nilai dan Distribusi Biodiversitasdi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu. E-Jurnal Arsitektur Lansekap1(2): 91-101. ISSN: 2442-5508.

Tulisan ini merupakan bagian dari buku tentang kawasan Puncak, yang belum diterbitkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s